Tampil Garang, Vokalis Band Punk Rock ini Bergelar Profesor

Diperbarui: 21 Okt 2020



Kebanyakan publik memiliki pandangan miring terhadap musisi rock atau metal. Kebanyakan dari mereka dinilai memiliki prilaku buruk dan jauh dari bangku sekolah. Akan tetapi, siapa menyangka ternyata di balik tuding-tudingan negatif tersebut, masih terdapat musisi rock/metal yang mampu menuntaskan pendidikan formal dan meraih gelar akademis. Bahkan, sebagian di antara mereka berhasil menyelesaikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Berikut vokalis band punk rock memiliki gelar Profesor dan memiliki band sukses juga.


1. Greg Graffin (Bad Religion)



Greg Graffin adalah seorang vokalis band punk rock legendaris Bad Religion yang memiliki musik yang keren dengan lirik yang menyerang secara intelektual.Greg memperoleh gelar PhD bidang Zoologi di Cornell University dan seorang dosen bidang ilmu pengetahuan di University of California, Los Angeles dan di Cornell University. Gelar Prof esor tersebut ia dapatkan dari desertasi zoologi berjudul Evolution, Monism, Atheism, and the Naturalist World-View: Perspectives from Evolutional Biology.


Selama 32 tahun bersama Bad Religion, ia sudah merilis sebanyak 17 album. Di antaranya How Could Hell be Any Worse? (1982), Back to the Known (1985), Suffer (1988), Against the Grain (1990), Generator (1992), Recipe for Hate (1993), Tested (1997), The Empire Strikes First (2004), New Maps on Hell (2007) serta yang terakhir Christmas Songs (2013) dan yang terakhir Age of Unreason (2019).


Selain produktif menulis , Greg aktif juga menulis jurnal tentang Vertebrata dan sampai detik ini terhitung empat buah buku telah ia tulis. Di antaranya Evolution and Religion: Questioning the Beliefs of the World’s Eminent Evolutionists, Anarchy

Evolution bersama Steve Olson, dan The Population Wars.


Sebagai seorang vokalis band punk serta peneliti, Greg pernah memperoleh penghargaan di dunia science. Dahulu ditemukan fosil burung purba di sebuah daerah di China, kemudian para penemu fosil tersebut sepakat memberikan nama Qiliania Graffini, merujuk pada nama belakang Greg Graffin. Dr. Jingmai O’Connor selaku pemimpin penelitian menyatakan, “The species name is in honor of Dr. Gregory Graffin, Ph.D. A paleontologist, evolutionary biologist, professor, rock star and inspiration to numerous budding and established scientists around the world,”


Kendati pun telah meraih banyak hal bersama Bad Religion, juga dalam karir ilmiahnya, Graffin tetap merasa masih banyak hal yang perlu ia pelajari.

2. Dexter Holland (The Offspring)


Dexter Holland adalah vokalis dari band The Offsprings. sebuah band beraliran punk yang berasal dari Orange County, California bagian selatan. Band ini pernah mengukir sejarah di dunia musik underground ketika meluncurkan album Smash yang terjual 8 juta copy berkat hit-hitnya seperti "Come Out and Play," "Self Esteem," and "Gotta Get Away,".

Selain menulis banyak lagu untuk band Offpring , Ia ternyata brilian di bidang pendidikan. Buktinya Dexter Holland berhasil memperoleh gelar PhD bidang Morecular Biology. Selama bertahun-tahun dia mencoba mendapat gelar doktor tahun 2017, tetapi studinya harus tertunda ketika grupnya tur.

Namun setelah berjuang dengan gigih, Holland berhasil mempertahankan disertasi sepanjang 175 halaman berjudul Discovery of Mature MicroRNA Sequences within the Protein-Coding Regions of Global HIV-1 Genomes: Predictions of Novel Mechanisms for Viral Infection and Pathogenicity. Secara garis besar, desertasi tersebut mengupas dinamika molekuler HIV dan interaksi umum virus-semang.


Holland menganggap penelitiannya sebagai langkah kecil menuju obat untuk HIV. Menurut Holland, hanya dengan akumulasi informasi dan pengetahuan selama 30 tahun belakangan, maka barulah penawar HIV bisa diciptakan. Holland juga bertekad akan terus melakukan penelitian.

3. Milo Aukerman (Descendents)



Keberadaan Milo Aukerman menjadi vokalis Band The Descendent sangat dihormati di kalangan punk, hardcore, bahkan pop,. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilupakan dari keunikan Milo Aukerman adalah Ia tidak cuma garang di panggung, tapi juga cerdas di dunia pendidikan. Sampai- sampai Band yang beranggotakan empat orang ini membuat album “Milo Goes To College” sebagai kenangan bagi Milo yang akan meninggalkan band Descendents, karena dia akan melanjutkan program sarjananya di Universitas California San Diego dalam bidang Biokimia. Saat ini Album tersebut menjadi album yang paling digemari oleh para fans dan menjadi sebuah koleksi bagi para pecinta band ini.


Sebagain besar literatur menyebutkan karir intelektualnya cukup sukses. Milo melakukan penelitian Postdoctoral dalam biologi molekuler di University of Wisconsin-Madison dan University of Pennsylvania. Beberapa tahun Milo berhasil menyelesaikan studi meraih gelar Ph.D dalam bidang biologi . Bahkan setelah lulus memuaskan dia diberi kesempatan untuk mengajar.


Milo juga mencoba mengembangkan karir intelektualnya dengan bekerja sebagai peneliti tanaman di perusahaan yang bernama DuPont dan sebagai asisten profesor di University of Delaware. Namun karir tersebut tidak bertahan lama. Milo lebih memilih untuk berhenti meneliti dan memilih bergabung kembali dengan band yang sempat membesarkan namanya. Saat diwawancarai majalah musik Spin pada 2016, Milo mengatakan bahwa dia memutuskan berhenti meneliti agar bisa bermusik secara penuh.


Setelah berpisah selama belasan tahun, Milo kembali bermusik. Bahkan tahun 2020 Milo merilis sebuah Extended Player (EP) yang berisikan kemarahan dan protesnya terhadap situasi politis di Amerika Serikat saat ini. Tapi, ada sesuatu yang berbeda. Narasi tersebut dibawakan bukan sebagai Descendents, melainkan melalui sebuah proyek ukulele dengan moniker RebUke.

4. Gregg Turner (Angry Samoans)



Siapa yang tidak mengenal Gregg Turner personel band punk rock Angry Samoans memegang gelar Ph.D di bidang Matematika dari Claremont University pada 1991. Gregg memiliki peran penting bagi eksistensi band Punk Rock di era 80-an ini. Selain menulis lirik lagu , ia berperan sebagai vokalis dan gitaris di bandnya. Uniknya selain menghabiskan waktuknya bermusik, Gregg juga menempuh karir intelektualnya dibidang matematika sampai mendapatkan gelar Ph.d. Setelah berhasil mendapatkan gelar Profesornya, Gregg mulai rutin mengajar di New Mexico Highlands University.


Turner dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berharap untuk menyelesaikan pendidikannya hingga sejauh itu. Akan tetapi, ketika dia memulai program, maka dia akan terus menjalaninya hingga selesai. Kecintaannya terhadap matematika membuat Turner rela menukar semburan panas punk rock Angry Samoans untuk hidup sebagai pendidik. (FTR)

104 tampilan0 komentar