Inilah Perawatan Dini Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Selama Pandemi



Di tengah pandemi Covid-19, menjaga kesehatan gigi dan mulut anak tetaplah penting. Tantangannya, bagaimana perawatan gigi dan mulut harus rutin dilakukan tanpa adanya penularan virus baik ke tenaga kesehatan maupun ke pasien.


Seperti yang dikutip dari lama unpad, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Prof. Dr. Willyanti Soewondo, drg., Sp.Ped. KGA (K), mengatakan, praktik kedokteran gigi dan mulut anak di tengah pandemi ini harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Perawatan gigi saat ini pun ditekankan pada pencegahan penyakit gigi dan mulut lebih dini (preventif dentistry).


“Perawatan gigi mulut anak pada era Covid-19 itu yang penting tindakan pencegahan penyakit gigi mulut secara lebih dini,” ujar Prof. Willy dalam diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) “Pandemi Covid-19 dan Kesehatan Gigi Anak”

Dikatakan Prof. Willy, pencegahan secara dini ini meliputi pemeliharaan kesehatan gigi di rumah, seperti menjaga kebersihan gigi dan mulut anak dengan baik dan mengoptimalkan edukasi kesehatan gigi.


Selain itu juga perlu adanya diet makanan non kariogenik, yaitu dengan mengurangi makanan bergula dan lengket, serta memperbanyak makanan berserat, seperti buah-buahan yang banyak mengandung air dan sayur-sayuran.


Kunjungan berkala ke dokter gigi pun perlu dilakukan setiap 3 sampai 6 bulan.

“Untuk anak dengan gigi mulut yang baik biasanya 6 bulan sekali, tapi yang banyak kariesnya dianjurkan interval 3 sampai 6 bulan,” ujar Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG Unpad ini.


Konseling prenatal juga penting dilakukan. Dikatakan Prof. Willy, kesehatan gigi dan mulut saat kehamilan harus mendapat perhatian khusus karena akan berdampak pada kondisi janin.


Selain itu, ibu juga dapat menjadi role model yang baik bagi anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.

“Sebetulnya harusnya dari sebelum hamil, calon ibu itu harus bagus gigi dan mulutnya,” ujarnya.


Tantangan Perawatan Gigi


Dikatakan Prof. Willy, di tempat praktik kedokteran gigi, 95 persen prosedur dental mengasilkan bioerosol. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dalam penyebaran virus. Selain itu, penggunaan instrumen gigi yang terkontaminasi juga berpotensi menularkan virus.


Sesuai adanya panduan PDGI dan AAPD, para dokter gigi dapat melakukan perawatan gigi dan mulut di era pandemi dengan menyesuaikan protokol kesehatan. Selain preventif dentistry, hal yang lebih ditekankan adalah adanya tindakan perawatan dengan minimal invasif.


Prof. Willy mengatakan, dalam praktik kedokteran gigi di era pandemi, diperlukan adanya proses skrining dan pengendalian infeksi.

“Sebetulnya dari kedokteran gigi anak pengendalian infeksi itu sudah dilaksanakan, tetapi pada era Covid ini pengendalian infeksi ini lebih ditingkatkan,” ujarnya.


Pengendalian infeksi yang dilakukan misalnya dokter gigi dan perawat harus dalam keadaan sehat dan menggunakan APD level 3 sedangkan pasien dipakaikan APD level 1.


Selain itu juga perlunya penggunaan separator wall pada saat berkonsultasi, disinfeksi ruang perawatan dan ruang tunggu, dan memperhatikan bahwa ruang praktik merupakan ruang bertekanan negatif atau ruang dengan cukup ventilasi, bisa dilengkapi adanya hepa filter dan sinar UVC untuk disinfeksi.


Dalam meminimalisasi aerosol, di antaranya dapat melalui penggunaan high vacum evacuator atau vaccum aerosol, melengkapi ruang praktik dengan alat hepa filter, atau penjernih udara. Prof. Willy juga mengatakan perlunya diterapkan four handed dentistry.


“Jadi four handed dentistry ini gunanya adalah mempersingkat waktu kerja dokter gigi, mengurangi kelelahan, dan juga mempersingkat kontak dengan aerosol,” jelasnya.


Sementara untuk kondisi yang tidak darurat, Prof. Willy mengatakan bahwa perawatan dapat dilakukan melalui teledentistri, yaitu perawatan gigi mulut jarak jauh dengan mengurangi jumlah tatap muka.(**/ftr)


Sumber Foto : dentistry.co.uk

47 tampilan0 komentar